Senin, 03 Agustus 2015

Akhir Minggu di Dieng, Ada Festival Budaya

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Kompleks Candi Arjuna di Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (27/12/2011). Kompleks candi Hindu peninggalan dari era ke-7 mempunyai tujuh candi yakni Semar, Gatotkaca, Puntadewa, Srikandi, Sembadra, Bima serta Dwarawati.
Berita Terkait

Mendekati Berlibur, " Homestay " di Dieng Mulai Dipesan Wisatawan
Capai Untung dari Pepaya Gunung
Wonosobo Layak Jadi Destinasi Wisata
Dringo, Telaga Terindah di Pulau Jawa

0

KOMPAS. com - Festival seni budaya di dataran tinggi Dieng, Magelang, Dieng Culture Festival (DCF) bakal di gelar pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2015. Dalam penyelenggaraan yang mengambil judul Culture for Harmony ini, sebagian agenda sudah disediakan untuk menghibur pengunjung.

Pada hari pertama, pengunjung bakal di ajak untuk nikmati panggung musik jazz melalui Jazz Atas Awan. AbsurdNation, Batavicada, HajarBleh, The Lounge, Cadenza serta Jammers Instrumental bakal jadi penampil Jazz Atas Awan th. ini. Panggung yang bakal berdiri diatas kompleks Candi Arjuna ini bukan sekedar bakal menghibur beberapa pengunjung, namun juga untuk masyarakat seputar. Jagung bakar serta minuman khas Dieng, Purwaceng.

Hari ke-2 bakal diawali dengan ekspedisi Gunung Pangonan. Disana, peserta di ajak untuk nikmati indahnya panorama matahari terbit. Satu agenda lain sepanjang ekspedisi ini yaitu penanaman pohon.

Acara paling utama pada hari ke-2 yaitu Festival Lampion. Beberapa ribu lampion bakal dilepaskan di kompleks Candi Arjuna dengan selingan tembakan kembang api. Beberapa pengunjung yang mempunyai ticket DCF juga memperoleh peluang untuk menerangkan lampion yang disiapkan panitia.

Terkecuali dua acara tadi, hari ke-2 bakal berisi pertunjukan seni serta pemutaran film. Saat sebelum Sabtu selesai, pengunjung bakal dihibur dengan pertunjukan wayang di timur kompleks Candi Arjuna.

Hari ketiga bakal jadi puncak acara DCF. Agendanya, terlebih bila bukanlah Ritual Cukur Rambut Gembel. Pemotongan rambut anak-anak memiliki rambut gembel ini membutuhkan ritual spesial lantaran anak memiliki rambut gembel dikira juga sebagai titisan dewa. Jika rambut gembel itu dipotong asal-asalan, diakui bahwa rambut gembelnya bakal tumbuh lagi.

Hal menarik lain yaitu, prosesi cukur rambut ini cuma dapat dikerjakan atas keinginan (atau kesepakatan) sang anak, serta apa pun keinginan sang anak mesti dipenuhi oleh orangtua atau walinya.

Dengan diawali prosesi pembacaan doa, barulah rambut anak gembel dipotong oleh tetua adatatau tokoh orang-orang. Rambut yang telah dipotong lalu bakal dibacakan doa saat sebelum pada akhirnya dilarung atau dibuang.

Ritual ini sangatlah menarik, dipandang dari bagaimanakah nilai kebiasaan masih tetap selalu dijaga oleh masyarakat Dieng. Prosesi pelarungan rambut ini dapat sekalian jadi penutup acara DCF yang pada awal mulanya sudah di gelar sejumlah lima kali.

DCF digagas oleh Grup Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Dalam penyelenggaraannya, Pokdarwis di dukung oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara serta Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, dan beragam sponsor pendukung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar